Kongres Kebudayaan yang dibuka tanggal 29 Oktober 1991 adalah suatu peristiwa yang cukup penting dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Seperti yang kita baca di koran, dalam pertemuan akbar tersebut akan dibahas lima topik utama: pertama, Warisan Budaya Penyaringan dan Pemeliharaan. Kedua, Kebudayaan Nasional: Kini dan Masa Datang. Ketiga, Daya Cipta dan Perkembangan Kebudayaan. Keempat, Kebudayaan dan Sektor-sektor Kehidupan Masyarakat, dan kelima, Kebudayaan Indonesia dan Dunia (Umat Manusia), seperti dimuat Kompas, 26 Oktober 1991.
Untuk menyambut Kongres Kebudayaan yang sangat penting itu, serta sebagai dasar untuk memberikan tanggapan terhadap pemikiran-pemikiran H. Abdurrahman Wahid mengenai peristiwa (kongres) tersebut seperti permintaan Jawa Pos, saya ingin mengemukakan pengertian dan pandangan saya mengenai makna kebudayaan dan masyarakat.
Kebudayaan pada dasarnya adalah suatu ‘cara hidup’, a way of life, “a social heritage that is learned and shared by a human group”. Masyarakat – a society – “is a self-sufficient and self–perpetuating group which includes persons with both sexes and all ages”. Masyarakat bersifat ‘self-sufficient’ karena senantiasa berusaha memenuhi dan mencukupi kebutuhannya sendiri. Di dalam suatu masyarakat yang telah cukup berkembang, umumnya memiliki suatu susunan perangkat teknik dan atau cara-cara untuk menghadapi lingkungannya. Oleh karena itu setiap masyarakat akan berusaha mempertahankan keberadaannya untuk jangka waktu tidak terbatas. Masyarakat berkaitan dengan kelompok manusia, ‘kebudayaan’ berkaitan dengan way of life, cara hidup yang mengikat manusia dalam kelompoknya, “the cement which binds the group together”.
Kebudayaan terdiri dari tiga komponen utama: (1) customs, (2) belief systems, dan (3) artifacts. Customs–kebiasaan-kebiasaan atau perilaku yang umum dalam hidup bermasyarakat, “group habits”. Orang Cina makan dengan ‘sumpit’–chopsticks. Orang Amerika makan dengan ‘garpu, sendok, dan pisau’, sedangkan orang Indonesia di desa-desa makan dengan ‘tangan’. Banyak variasi dalam cara-cara atau kebiasaan makan, berpakaian dan lain-lain.
Belief systems–sistem kepercayaan–: “are set of ideas that prescribed standards for right or wrong behavior, and give meaning and purpose of life”. Sistem kepercayaan mencakup norma-norma dan nilai-nilai yang menjadi dasar untuk membedakan yang ‘baik’ dan ‘buruk’, serta memberi makna mengenai akibat dan tujuan hidup manusia dalam masyarakatnya.
Artifacts: “are the objects that a society produces and uses, including the tools that are used to produce other objects.” Artifacts adalah benda-benda yang diciptakan untuk mempermudah dan memenuhi kebutuhan hidup manusia dalam masyarakatnya. Benda-benda sebagai karya budaya mulai dari yang paling sederhana, seperti kapak batu di Irian sampai komputer dalam masyarakat yang lebih maju, tergantung dari perkembangan teknologi dalam suatu masyarakat. Tetapi peralatan-peralatan sebagai karya teknologi, sebagai hasil aplikasi ilmu pengetahuan yang dimiliki suatu masyarakat, pada dasarnya dapat dihasilkan melalui upaya sendiri, juga melalui ‘transfer’ atau ‘dibeli’ dari masyarakat lain.
Mengapa di sini perlu diperinci isi dari ‘kebudayaan’ itu? Perincian mengenai isi kebudayaan penting sebagai dasar untuk memahami pembicaraan tentang kebudayaan. Kadang-kadang orang menggunakan istilah kebudayaan hanya dalam arti komponen tertentu, misalnya adat istiadat, atau karya kesenian. Menggunakan ‘kebudayaan’ dalam arti sistem nilai yang bersumber pada sistem kepercayaan saja. Bahkan mungkin istilah kebudayaan dipakai dalam pengertian ‘ilmu dan teknologi’, aspek material dari kebudayaan yaitu ‘artifacts’, yang sangat tergantung pada kemajuan ilmu pengetahuan dan kemampuan ekonomi suatu bangsa.
Setiap kebudayaan (suatu bangsa atau suku bangsa) memiliki ketiga unsur tersebut baik bangsa-bangsa di Timur atau di Barat. Ciri kebudayaan yang bersifat ‘ekspresif’ maupun yang ‘progresif’ terdapat dalam semua kebudayaan. Kebudayaan dapat senantiasa mengalami perubahan, karena ‘isi kebudayaan’ berubah. Perubahan kebudayaan menjadi isu yang penting, karena ‘pembangunan’ sebagai upaya untuk meningkatkan mutu dan taraf hidup suatu masyarakat senantiasa dikaitkan dengan kebudayaan. Kebudayaan sering dipandang sebagai ‘independent-variabel’, penyebab dari kenyataan-kenyataan mengenai gerak pembangunan itu. Dalam kedudukan kebudayaan sebagai ‘penentu gerak pembangunan’ Muchtar Pabotingi menyatakan, “Kebudayaan bukanlah terdakwa” (Kompas, 13-14 Oktober 1991). Tetapi, pandangan Muchtar Pabotingi tersebut justru dinilai oleh Sutan Takdir Alisyahbana sebagai “Kekaburan pengertian mengenai kebudayaan” (Kompas, 2 Oktober 1991). Dengan sengaja saya mengutip pendapat dan pengertian ‘kebudayaan’, culture, pada awal tulisan ini untuk terlebih dahulu berusaha tidak terjebak dalam kerumitan pengertian dan interpretasi terhadap makna kebudayaan.
Dari pengertian tersebut di atas, saya ingin menegaskan bahwa ‘kebudayaan’, terutama dalam komponen sistem nilainya memang benar dalam sejarah dunia modern dapat dipandang sebagai ‘kunci’ perubahan dan perkembangan ke arah dunia modern melalui proses ‘enlightenment’ seperti dialami dunia Barat beberapa abad lalu, yang kemudian menumbuhkan akumulasi ilmu pengetahuan dan karya teknologi yang sangat maju seperti kita saksikan dewasa ini. Saya juga berkeyakinan bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai bagian kebudayaan pada dasarnya dapat dipengaruhi, dapat dipercepat laju perkembangannya melalui upaya manusia melalui perencanaan. Dikehendaki atau tidak, perubahan dalam bidang teknologi akan memengaruhi cara hidup, dan perubahan cara hidup mungkin sekali akan memengaruhi sistem nilai dan norma yang dihayati seseorang atau sekelompok orang dalam masyarakat.
Menarik sekali apa yang dikemukakan seorang peserta diskusi tentang “Kebudayaan dan Kepribadian Nasional dalam Era Globalisasi” pada tanggal 26 Oktober 1991 di Balai Manunggal, Ujung Pandang. Saat itu, seorang peserta diskusi dari Kecamatan Tinggimoncong, Kabupaten Gowa, menyatakan bahwa sejak adanya siaran TPI, kebiasaan mengaji di desanya mengalami perubahan. Banyak anak-anak mulai malas pergi mengaji karena lebih suka mengikuti siaran Televisi Pendidikan Indonesia (acara anak-anak).
Apa yang ingin saya tegaskan di sini ialah bahwa kebudayaan itu, khususnya sistem nilai-nilainya, selain sangat menentukan perkembangan pembangunan, pada dasarnya juga dipengaruhi oleh perkembangan sejarah (khususnya politik dan ekonomi). Industrialisasi yang di Barat baru dapat berkembang dalam masa kurang lebih 200 tahun, dapat dipercepat menjadi hanya 70 tahun di Rusia, terlepas dari aspek sistem politiknya yang mengalami keruntuhan dewasa ini. Teknologi nuklir yang dikembangkan Amerika dalam waktu puluhan tahun, hampir dapat diciptakan juga oleh Saddam Husain dalam waktu belasan tahun saja, seandainya ia tidak dikalahkan setelah ‘dikeroyok’ oleh PBB.
Makassar, Oktober 1991
Prof. Dr. Syukur Abdullah

